CATATAN PERJALANAN RAJA AMPAT 2015 (Part 1)




"Jantung berdebar, takjub dan merasa tak percaya akhirnya bisa sampai di Kepulauan Raja Ampat. Rasa itu yang aku maknai ketika bergabung dengan 24 pejalan lainnya dari seluruh Indonesia untuk menikmati kawasan tersebut." 
--- Puput Julianti Damanik,Wartawan Sumut Post ---



Berenang dengan Hiu, Tidur Dijaga Penyu

Sekitar 30 menit speed boat carteran (bukan public boat) yang kami gunakan meninggalkan Pelabuhan Usaha Mina (Sorong), tiba-tiba belasan lumba-lumba melompat bebas tak jauh di samping speed boat yang kami naiki Semacam menyambut kedatangan kami.

"Ini masih awal", ujar Amir, boatman di speedboat yang kami tumpangi.
Speed boatpun terus melaju memecahkan ombak yang menghadang. Ternyata, tempat yang dituju yaitu kepulauan Raja Ampat masih jauh.

Rasa penasaran menghancurkan lelah 24 pejalan yang telah melakukan perjalanan  jauh dari kotanya masing-masing hingga akhirnya bertemu di Bandar Udara Domine Eduard Osok, Sorong, Mei lalu. Ada yang dari Medan, Banjarmasin, Jakarta, Bali dan daerah lainnya di Indonesia, bersatu dalam misi 'Jelajah Indonesiaku'.

Peserta Trip Jelajah Indonesiaku

Alangkah baiknya apabila aku memperkenalkan 24 pejalan yang melakukan misi “Jelajah Indonesiaku”, diantaranya adalah :
1.       Puput Julianti Damanik yaitu aku dari Medan;
2.       Lastri dari Tangerang;
3.       Heny Farida dari Banjarmasin;
4.       Becky dari Bogor;
5.       Fransiska Saragih dari Balikpapan;
6.       Sondang F Wina dari Bekasi;
7.       Angelia Noviana beserta suaminya yaitu Efriza dari Kalimantan;
8.       Ishak beserta istrinya yaitu Nurjannah dari Banjarmasin;
9.       Vikky Elsa dari Bali;
10.   Trianasaputri dari Bali;
11.   Willy Murdani dari Manokwari;
12.   Anita Nainggolan dari Jakarta;
13.   Andi dari Jakarta;
14.   Anastasia beserta adiknya yaitu Alvin dari Jakarta;
15.   Ivan Ramdhani dari Jakarta;
16.   Asep Saepudin dari Jakarta;
17.   Rehold Togu Sihotang dari Jakarta;
18.   Maryo Oscar dari Jakarta;
19.   Santy dari Jakarta;
20.   Daniel Ompusunggu dari Pematangsiantar;
21.   Bonando Siregar dari Pematangsiantar.

Tujuan kami di hari pertama adalah Mess Conservation International (CI). Waktu yang dibutuhkan dari Pelabuhan Usaha Mina, Sorong sekitar 5 jam. Untuk memecahkan kebosanan, akhirnya pemandu perjalanan kami yaitu Bonando Siregar memutuskan untuk mengajak snorkeling di Friwen Bonda.
 
"Nama lokasi ini adalah Friwen Bonda dan menjadi spot snorkeling pertama hari ini sebelum tiba di Mess Conservation International (CI). Perlu saya sampaikan, kita datang kesini untuk berlibur, jadi silahkan dinikmati keindahan bawah lautnya yang super kece ini dan jangan ada perasaan takut akan hiu atau sejenisnya karena itu akan merusak mood liburan kalian, satu hal yang pasti adalah teman-teman dalam pengawasan tim dari Jelajah Indonesiaku" ujar pria kelahiran Sumatera Utara (Sumut) itu.

Ikan Badut (Nemo) di Friwen Bonda
Friwen Bonda, menjadi keajaiban kedua. Setelah menggunakan perlengkapan snorkeling dan rasa penasaran yang menggebu-gebu akan keindahan bawah lautnya, akhirnya kami semua  langsung melompat dari atas speedboat ke laut dan setelah berada di air yang muncul dalam pikiran adalah decak kagum akan keindahan bawah laut kepulauan Raja Ampat.

Tak ada satu pun sisi yang lepas dari pandangan. Aneka ragam bentuk dan warna terumbu karang, soft coral dan ikan-ikan kecil menjadi satu kesatuan yang tak terpisahkan atau sering disebut scholling fish, seperti memanggil-manggil untuk menari bersama. Ada ikan nemo dengan warnanya yang cerah dan beranekaragam nudibranch (siput laut) dan pigmy seahorse yaitu kuda laut mungil yang pintar berkamuplase dan keindahan lainnya yang tidak bisa diungkapkan dan hanya bisa disimpan di memori otak.

Satu jam waktu berlalu di Friwen Bonda. Perjalanan kembali dilanjutkan menuju Mess CI. Sebelum sampai di Mess, rombongan menyempatkan diri berinteraksi langsung dengan masyarakat di Kampung Sarpele dan menyerahkan ratusan buku bacaan yang telah kami bawa dari kota masing-masing. Kebahagiaan terlihat dari wajah anak-anak di sini, bahkan tanpa segan mereka menunjukkan kebolehannya dalam bernyanyi.

"Kami senang kaka datang kasih buku, di sini gurunya hanya ada satu. Kami butuh ibu guru," ujar seorang anak di Kampung Sarpele, Senda Moal.

Sekitar setengah jam menghabiskan waktu bersama anak-anak Sarpele, rombongan pun berpamitan dan meneruskan perjalanan menuju Mess CI. Ada aturan tak tertulis di daerah ini yaitu seluruh pengunjung yang masuk ke wilayah Wayag diwajibkan untuk melapor ke kepala adat Desa Sarpele dan memberi donasi sejumlah tertentu yang sudah disepakati.

Kami memutuskan untuk bermalam di Mess CI dengan pertimbangan yaitu lokasi ini lebih dekat dari Wayag (sekitar 20 menit perjalanan laut) dan membuat kami lebih lama menikmati pesona Wayag yang sudah sangat tersohor itu.


Belum terlalu petang, sekitar pukul 16.00 WIT rombongan akhirnya tiba di Mess CI. Mess CI bukanlah penginapan komersial, mess ini merupakan tempat inap para pekerja yang bertugas mengawasi kepulauan Raja Ampat, jadi fasilitas yang tersedia hanya kamar tidur, kamar mandi dan dapur, itu juga dengan fasilitas seadanya. Para petugas CI menyambut baik kehadiran kami, karena biasanya mereka sangat senang apabila ada tamu yang datang ataupun menumpang tidur di lokasi mereka.

Pemandangan tidak biasa kembali kami saksikan lagi. Kali ini, rombongan hiu yang hidup bebas di sekitaran pulau tempat kami menginap seakan menyambut kedatangan kami.

Bermain dengan kawanan hiu
Sebelumnya, tidak ada yang memberi tahu bila di pulau ini banyak hiu yang berenang bebas sampai ke tepi pantai. Setelah turun dari speedboat, seluruh pejalan (peserta trip) pun berdecak kagum. Semua sibuk mengambil kamera dan memberanikan diri berenang bersama hiu setelah sebelumnya petugas konservasi (CI) menyatakan aman. "Aku juga mau menyelam sama hiu," girang beberapa pejalan. Namun tetap saja rasa takut dan khawatir tetap ada dalam diri, mengingat hiu – hiu tersebut hidup liar dan masih memiliki insting memburu, tapi kekhawatiran tersebut berangsur – angsur memudar dan yang ada adalah hiu – hiu tersebut menghindar ketika kami berenang mendekati mereka. Kami terlena dengan pesona penghuni – penghuni bawah laut kepulauan Raja Ampat, hingga tanpa sadar matahari sudah kembali ke peraduannya dan kami harus segera mengakhiri kenikmatan alam ini.

Cleopatra style

Yoga style - sunset
Malam segera tiba, semua pejalan masuk ke kamar yang nantinya menjadi tempat kami merebahkan tubuh untuk melepas penat. Setelahnya, kami membilas tubuh kami yang sedari tadi bercampur dengan keringat dan air laut dengan air payau, karena di pulau ini tidak tersedia air segar (air tawar) sebagaimana yang kita nikmati di rumah kita.

Kamipun bersiap menikmati makan malam yang telah dimasak oleh penjaga. Segala perbekalan (logistik) makanan sudah dipersiapkan oleh tim Jelajah Indonesiaku dan dibawah langsung dari kota terdekat yaitu kota Sorong. Menu makan malam hari ini adalah Ikan teri medan, telur dan indomie, makanan sederhana semakin terasa nikmat dikarenakan seluruh pejalan bercengkeramah dan bercanda satu sama lain, suasanapun menjadi riuh ditengah pulau yang akupun tidak tahu dimana lokasi persisnya.

Setelah makan malam selesai, Bang Bonando Siregar selaku Tour leader dari tim Jelajah Indonesiaku melakukan review mengenai perjalanan hari ini dan menginformasikan perjalanan yang akan dilakukan keesokan harinya. Dan diakhir pembicaraannya dia berpesan “Teman – teman harus jaga MOODnya, kita datang kesini untuk berlibur dan silahkan nikmati perjalananmu dan indahnya alam Raja Ampat ini, terakhir tetap jaga kesehatan masing – masing.”

Meski malam, kondisi di Raja Ampat lumayan panas dan gerah, hingga beberapa pejalan memutuskan untuk tidak tidur di kamar yang telah disediakan, aku dan beberapa pejalan lainnya tidur beralas sleeping bag di atas dermaga. Ternyata tidur di dermaga lebih nikmat dari tidur di hotel bintang lima. Langit dihiasi jutaan bintang dan dibawahnya suara desiran air yang sesekali menghantam lembut tiang-tiang dermaga. Ikan-ikan kecil termasuk hiu mondar-mandir di bawahnya.

Sekitar pukul 03.00 WIT, giliran penyu-penyu yang keluar. Sayangnya karena tidur terlalu lelap, kami tidak ikut menyaksikannya. "Sekitar jam 3 pagi, banyak penyu yang naik ke daratan dan naik ke dermaga. Banyak yang mendekati kaka - kaka tidur, tapi kami tidak berani membangunkan karena kelihatannya terlalu lelah dan tidurnya nyenyak sekali. Kami mengangkat satu per satu penyu yang mulai mendekat," ujar ABK Speedboat, Amir.

"Yah, kok gak dibanguni!" balas kami kecewa. 


Oleh :  Puput Julianti Damanik
Tulisan ini sudah dipublikasikan di koran Sumut Post.

0 comments:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.